Peluang Ekspor Menantang ke Uzbekistan
Potensi dan peluang pasar di Uzbekistan cukup besar karena kemampuan industri memproduksi barang di negara ini terbatas. Hampir 80% barang-barang konsumsi diimpor dari negara lain. Di samping itu, pemerintah Uzbekistan sejak 2006 mulai menggiatkan liberalisasi melalui kebijakan kemudahan impor, reformasi perpajakan, penyederhanaan prosedur investasi dan pendirian usaha. Sayangnya, Uzbekistan masih dipandang sebelah mata oleh pengusaha Indonesia, sementara negara lain seperti China, India, Turki, Vietnam, dan Malaysia sudah lama menyadarinya. Mereka membanjiri Uzbekistan dengan beragam produk dan harga bersaing, seperti palm oil, mebel, barang elektronik dan konsumer, tekstil, hingga teh. Padahal produk mebel, mesin dan perlengkapan serta tekstil dari Indonesia cukup diminati.
Produk Indonesia yang masuk ke Uzbekistan, antara lain produk rotan dan kayu, tekstil dan produk tekstil, karet, makanan olahan dalam kaleng, teh, sabun mandi, sampo, cokelat bubuk, minyak sawit, peralatan mesin, ban mobil, peralatan listrik, tembakau, dan obat-obatan. Khusus produk teh dalam kemasan siap konsumsi, peluangnya besar. Selama ini ekspor teh Indonesia masih dalam partai besar langsung dari perkebunan teh (bahan mentah) dan dikemas ulang dengan merek teh Uzbekistan. Sumber: Bisnis Indonesia
BPS: Ekspor Indonesia April melonjak 23,09%
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor Indonesia pada April 2008 mencapai US$10,97 miliar atau melonjak 23,09% dibandingkan dengan bulan yang sama 2007.Kepala BPS Rusman Heriawan mengungkapkan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau Maret, kenaikan ekspor tidak terlalu besar yaitu hanya 7,78%. Secara kumulatif, ekspor pada Januari-April mencapai US$44,61 miliar atau 29% lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sumber: Bisnis Indonesia
Pertanian, Membuat Krisis RI Cepat Berakhir
Bank Dunia memproyeksi Indonesia akan melewati krisis pangan dalam jangka waktu yang relatif pendek dibanding dengan negara Asia Tenggara lain. Sebab, Indonesia mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan menstabilkan harga komoditas domestik. "Program BLT untuk masyarakat miskin juga merupakan salah satu program bagi Indonesia untuk mampu menghadapi krisis pangan," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Joachim Von Amsberg dalam acara Krisis Harga Pangan Global: Peluang Bagi Pertumbuhan Pertanian Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (10/6/2008). Sumber: okezone.com